Langsung ke konten utama

Rekonfigurasi Politik Kelas Menengah : Masyarakat bisa apa?

 

Dalam kurun waktu 10 tahun  ini pertumbuhan kelas menengah khususnya di Indonesia semakin meningkat tajam. Hal ini ditandai dengan semakin geliatnya pertumbuhan ekonomi dasar dan kebutuhan rumah tangga yang meningkat. Hal ini terjadi karena konsumsi paling banyak berasal dari kelas menengah. Apalagi kelompok ini juga bisa dikatakan mampu membeli hal-hal diluar kebutuhan mendasar seperti hiburan, kendaraan pribadi, dan lainnya. Menurut data yang dilansir oleh media asumsi mengatakan bahwa, kelas menengah di Indonesia didefinisikan sebagai orang yang pengeluaran setiap bulannya mencapai Rp 1,2 juta – 6 juta. Hal ini menandakan dapat menjadi salah satu tolak ukur dalam pembahasan ekonomi yang mana rata-rata merupakan para pekerja yang digaji di atas UMR. Jjika kita kaitkan dengan adanya pembangunan kembali sebuah sistem politik yang biasanya  melekat pada kelas menengah akan ditemui bahwasannya terjadi berbagai perdebatan mengenai independensi dan rasionalitas dalam memandang politik. kelompok menengah ini bisa menjadi framing maupun alat dalam menggerakan politik dengan mudah, dikarenakan dalam proses politik akan luwes dalam mempengaruhi orientasi politiknya. Disisi lain suatu kelompok bahkan berkeinginan agar dapat menarik simpati kelompok tersebut terutama dalam pemilihan maupun proses politik yaitu dengan pemberian berupa janji-janji manis ketika kampanye yang dilontarkan oleh para aktor yang bertarung dalam kontestasi politik. media menjadi peranan yang sangat vital pada masa kini yang telah menjadi perantara antara antar manusia untuk saling berinterkasi, tidak menutup kemungkinan terutama dalam pembahasan kontestasi politik. masyarakat kelas menengah pada realitanya menjadi sasaran yang sangat empuk yang berasal dari framing media massa. Mereka menjadi sasaran karena dianggap menjadi bahan yang sangat bagus terutama dalam melemparkan isu. Disini masyarakat menengah dianggap memiliki preferensi politik yang lemah yang menyebabkan adanya saling lempar isu. Apalagi model zaman sekarang yang berusaha membuat dikotomi masyarakat yang menjadi khawatir yaitu adanya kemungkinan untuk diadu domba.  Mereka dapat melemparkan isu atas pertimbangan karena pengaruh tekanan dari suatu pihak atau bahkan mereka melemparkan isu hanya sebatas untuk keuntungan media tersebut. disini perlunya proses memilah dan berfikir rasional yang sesuai dengan keadaan yang ada. Peran serta masyarakat sangatalah besar terutama diranah lokal dan masyarakat lapisan menengah kebawah. Mereka bukan hanya masyarakat yang hanya digerakan oleh suatu kelompok. Tetapi mereka bisa menjadi kekuatan yang mumpuni dalam menggerakan apa yang ingin dicapai.

 Aspirasi masyarakat tentunya sangat besar tetapi harus disertai dengan upaya yang nyata dalam proses penyampaiannya. Ditambah dengan adanya peran lembaga perwakilan merpakan salah satu lembaga yang mewadahi itu semua. Mereka harusnya mempunyai peran yang cukup kuat terutama yang berasal dari dalam, karena peran mereka berawal dari dirinya sendiri yang dibawakan oleh kesadaran masing-masing. Mereka mempunyai hak untuk berbenah dan merubah keadaan tentunya sesuai norma dan etika, karena mereka mengenal adanya sisi humanisme yang membawa pada penghargargaan atas usaha individu dapat berupa nilai maupun etika moral yang terjadi. Walaupun dalam prosesnya pastinya tidak bisa terlepas dari berbagai dinamika dan gejala sosial yang terjadi. Hal yang paling besar untuk mempengaruhi mereka adalah perubahan sosial yang begitu cepat. Perubahan disini dapat berupa nilai maupun moral terutama dengan adanya globalisasi yang menyebabkan semakin tidak adanya ruang yang terbatas menjadi tidak terbatas.

Komentar

  1. Apakah prilaku ataupun sifat humanisme dimasa manusia modern mengalami perubahan tata cara ataupun hakikat. Ketika melihat realitas sekarang yang banyak terkekang aturan hukum yang semakin membatasi dan mempersulit kebebasan akan sifat humanisme manusia itu sendiri. Apakah kedepannya manusia benar-benar kehilangan sifat kemanusiaannya akibat hal tersebut, atau apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dilihat dari sisi kemanusian, manusia sendiri terus berkembang menyesuaikan dengan zaman dan tempat yang dipijakinya. Kalo kita melihat sebuah humanisme melalui pendekatan realita sekarang sangat memungkinkan akan mengalami perubahan, terutama jati diri yang dipunya. Bisa dikatakan manusia itu berkembang menyesuaikan diri bukannya saklek terhadap keadaan. Maka dari itu penting nya resistensi nilai-nilai luhur budaya yang telah ada. Patut diilhami sebagai pegangan humanisme. Jika dikaitkan dengan gejala politik karena suatu entitas yang tidak bisa dipisahkan maka kata Gus Dur "Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan".

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah pergerakan. Jika diibaratkan manusia, PMII kini sedang berada di fase kematangan yang seharusnya sudah tuntas dengan urusan identitas. Namun, merayakan Harlah ke-66 dengan tema "Aksi Nyata untuk Indonesia" hari ini terasa seperti sebuah teguran halus sekaligus tantangan besar. Di tengah hiruk-pikuk perayaan, kita perlu duduk sejenak, melepas atribut kebesaran, meluruskan hati dan bertanya dengan jujur, sejauh mana akal fikiran, kaki terpijak, dan   esensi organisasi akan dibawa?. Tantangan terbesar PMII ke depan bukan lagi soal kekurangan kader secara kuantitas, melainkan ancaman apatisme yang sistemik. Kita hidup di era di mana mahasiswa lebih mudah tergerak oleh tren media sosial daripada isu kemiskinan di depan mata. Fanatisme berlebih yang menarasikan ideologisasi yang pragmatis akan melahirkan kader yang premature bagi organisasi. Apatisme ini bukan sekad...

Simbiosis Mutualisme Antara Masyarakat dan Negara Melalui "Jogo Tonggo" dan Peran Dalam Pembangunan Daerah

               Di dalam masyarakat dan negara terdapat sebauh sistem yang mana biasanya ada keterkaitan satu sama lain dan itu saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena adanya sebuah kecenderungan didalam proses bermasyarakat bernegara yaitu saling ketergantungan. Didalam ketergantungan tersebut maka akan terjadi sebuah simbiosis yang terkadang akan berbeda ketika input yang diberikan dan output yang dihasilkan. Tetapi ada kalanya didalam hubungan antara masyarakat sipil dan negara dapat memberikan simbiosis mutualisme yang baik untuk progres kedepan. Kalo kita kaitan melalui pendekatan perspektif bahwa masyarakat sipil dan negara adalah sebuah entitas yang berbeda maka kita dapat lebih mengetahui gejala yang akan ditimbulkan salah satunya yaitu dengan terbukanya ruang demokrasi yang begitu besar. Pasal 4 ayat 1 dan 2, UU No. 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota tidak lagi mempunyai hub...

Problem dan Konflik Rasisme di Indonesia (Isu Rasisme Etnis Tionghoa)

  Kerusuhan Mei 1998 merupakan masa kelam bangsa Indonesia dan dunia. Kejadian tersebut merenggut lebih dari seribu jiwa penduduk keturunan Tionghoa di Indonesia dan merusak ribuan rumah dan toko yang dimiliki keturunan Tionghoa di Indonesia, dan lebih dari seratus wanita keturunan Tionghoa diperkosa dalam beberapa hari selama tragedi itu berlangsung. Aksi tersebut tentunya menyita perhatian yang cukup besar terutama dalam kancah perpolitikan yang ada di Indonesia. Hal ini ini merpakan salah satu bentuk respon dari adanya krisis moneter dan finansial yang melanda Indonesia pada saat itu. Kejadian tersebut berubah dengan cepat secara drastis menyasar secara ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Apalagi dengan adanya isu rasisme yang dilakukan oleh pemerintah orde baru secara struktural berpengaruh terhadap pola kegiatan sosial masyarakat yang terjadi. Kerusuhan anti-Tionghoa pada Mei 1998 mengguncang Indonesia. Tragedi tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia a...