Langsung ke konten utama

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama

Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah pergerakan. Jika diibaratkan manusia, PMII kini sedang berada di fase kematangan yang seharusnya sudah tuntas dengan urusan identitas. Namun, merayakan Harlah ke-66 dengan tema "Aksi Nyata untuk Indonesia" hari ini terasa seperti sebuah teguran halus sekaligus tantangan besar. Di tengah hiruk-pikuk perayaan, kita perlu duduk sejenak, melepas atribut kebesaran, meluruskan hati dan bertanya dengan jujur, sejauh mana akal fikiran, kaki terpijak, dan  esensi organisasi akan dibawa?.

Tantangan terbesar PMII ke depan bukan lagi soal kekurangan kader secara kuantitas, melainkan ancaman apatisme yang sistemik. Kita hidup di era di mana mahasiswa lebih mudah tergerak oleh tren media sosial daripada isu kemiskinan di depan mata. Fanatisme berlebih yang menarasikan ideologisasi yang pragmatis akan melahirkan kader yang premature bagi organisasi. Apatisme ini bukan sekadar ketidakpedulian, tapi bentuk kelelahan mental terhadap narasi pergerakan yang seringkali hanya berhenti di meja kopi atau ruang seminar. Ada jarak yang lebar antara diksi "pembelaan rakyat" dengan realita hidup masyarakat yang penuh dengan kesenjangan. Disitulah letak gap antara masyarakat dan mahasiswa yang seharusnya bisa menjadi penyambung dan pembela masyarakat secara adil tapi melihat realita sekarang sudah cukup banyak berpolah dengan kesibukan masing-masing.

Masalah ini diperparah dengan bayang-bayang pragmatisme pergerakan. Harus diakui, sebagian dari kita mulai terjebak dalam pola pikir transaksional. Organisasi seringkali hanya dijadikan batu loncatan karir atau sekadar kendaraan politik praktis. Ketika "aksi nyata" diukur dari seberapa dekat kita dengan kekuasaan, di situlah esensi pergerakan mulai mati. Pergerakan yang pragmatis hanya akan menghasilkan "tukang stempel" kebijakan, bukan pengawal keadilan yang punya taring. Di sinilah nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) harus dipanggil kembali bukan sekadar sebagai jargon teologis, melainkan metodologi bergerak dan berfikir. Tawassuth (moderat) bukan berarti tidak punya pendirian atau mengambil jalan aman di tengah konflik. Dalam konteks aksi nyata, tawassuth adalah keberanian menjadi jembatan bagi mereka yang terpinggirkan. I’tidal (tegak lurus) adalah konsistensi untuk tetap membela kebenaran meskipun itu pahit dan terkadang akan berseberangan dengan keputusan politik.

Esensi pergerakan adalah tentang keberpihakan. Jika PMII ingin benar-benar memberi aksi nyata untuk Indonesia, maka orientasi kita harus kembali ke akar rumput. Kita perlu menjawab tantangan zaman yang kian kompleks: mulai dari isu ketimpangan ekonomi, krisis iklim, darurat demokrasi, aspek hukum dan negara,  hingga perlindungan hak asasi manusia yang kian tergerus oleh algoritma digital. Aksi nyata tidak harus selalu berarti demonstrasi besar di jalanan, tapi bisa berupa pendampingan hukum bagi masyarakat adat, pemberdayaan ekonomi lokal, peduli pada kesehatan mental atau menjadi benteng literasi bagi generasi muda yang terpapar berita bohong maupun ujaran kebencian. 

Menyongsong usia baru ini, PMII harus berani melakukan otokritik. Berhenti meromantisasi masa lalu dan mulai membedah luka-luka internal kita sendiri. Kita butuh kader yang tidak hanya fasih berdialektika, tapi juga tangkas bekerja fokus pada aspek professional dan ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing. Indonesia tidak butuh lebih banyak orator yang hanya jago berwacana. Indonesia butuh penggerak yang mau berkeringat demi perubahan sekecil apa pun sesuai dengan tema PMII tahun ini. Harlah ke-66 ini adalah momentum untuk pulang. Pulang ke jati diri sebagai organisasi kader yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang tulus. Menjauh dari mentalitas "proyek" dan kembali ke semangat "khidmat." Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa sering kita berteriak, tapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan untuk kemanusiaan. Selamat Harlah PMII, teruslah bergerak, karena dalam diam, esensi kita lenyap.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simbiosis Mutualisme Antara Masyarakat dan Negara Melalui "Jogo Tonggo" dan Peran Dalam Pembangunan Daerah

               Di dalam masyarakat dan negara terdapat sebauh sistem yang mana biasanya ada keterkaitan satu sama lain dan itu saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena adanya sebuah kecenderungan didalam proses bermasyarakat bernegara yaitu saling ketergantungan. Didalam ketergantungan tersebut maka akan terjadi sebuah simbiosis yang terkadang akan berbeda ketika input yang diberikan dan output yang dihasilkan. Tetapi ada kalanya didalam hubungan antara masyarakat sipil dan negara dapat memberikan simbiosis mutualisme yang baik untuk progres kedepan. Kalo kita kaitan melalui pendekatan perspektif bahwa masyarakat sipil dan negara adalah sebuah entitas yang berbeda maka kita dapat lebih mengetahui gejala yang akan ditimbulkan salah satunya yaitu dengan terbukanya ruang demokrasi yang begitu besar. Pasal 4 ayat 1 dan 2, UU No. 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota tidak lagi mempunyai hub...

Problem dan Konflik Rasisme di Indonesia (Isu Rasisme Etnis Tionghoa)

  Kerusuhan Mei 1998 merupakan masa kelam bangsa Indonesia dan dunia. Kejadian tersebut merenggut lebih dari seribu jiwa penduduk keturunan Tionghoa di Indonesia dan merusak ribuan rumah dan toko yang dimiliki keturunan Tionghoa di Indonesia, dan lebih dari seratus wanita keturunan Tionghoa diperkosa dalam beberapa hari selama tragedi itu berlangsung. Aksi tersebut tentunya menyita perhatian yang cukup besar terutama dalam kancah perpolitikan yang ada di Indonesia. Hal ini ini merpakan salah satu bentuk respon dari adanya krisis moneter dan finansial yang melanda Indonesia pada saat itu. Kejadian tersebut berubah dengan cepat secara drastis menyasar secara ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Apalagi dengan adanya isu rasisme yang dilakukan oleh pemerintah orde baru secara struktural berpengaruh terhadap pola kegiatan sosial masyarakat yang terjadi. Kerusuhan anti-Tionghoa pada Mei 1998 mengguncang Indonesia. Tragedi tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia a...