Langsung ke konten utama

Relasi Radikalisme Dan Terorisme : Ada Apa?

 

    Makna radikalisme agama menurut konteks politik di Indonesia sebenarnya bukan hal yang tabu pembahasan mengenai radikalisme yang terjadi di Indonesia. Banyak sekali kajian dan peristiwa yang mengaitkan radikalisme dengan kejadian yang bersifat agama maupun dalam gerakan sosial. Secara terminologi radikalisme dapat diartikan sebagai radix yang mempunyai arti kata akar dan isme yang berarti paham atau aliran. Menurut KBBI radikalisme diartikan paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekarasan atau drastis. Kadang banyak sekali informasi yang menyebut dan mengaitkan arti radikalisme dan gerakan sosial keagamaan, bahkan banyak sekali yang mengaitkan pula radikalisme dengan aksi terorisme, padahal secara harfiah radikalisme diartikan cara berfikir yang mendalam dan sampai dengan akar-akarnya. Tetapi, konotasi radikalisme mungkin bisa saja menjadi anggapan yang kentara sekali terutama mengenai keterkaitan dengan gerakan-gerakan puritan agama. Gerakan tersebut menjunjung asas pemurnian ajaran yang mana mengangaggap ajaran yang telah ada telah menyeleweng dengan ajaran yang sebenarnya. Sebenarnya gerakan semacam ini banyak sekali terjadi dibelahan negara lain, tetapi secara khusus kita membahas mengenai gerakan radikalisme yang terjadi di Indonesia. Radikalisme yang terjadi di Indonesia dapat diliat dari kurun waktu sejak kemerdekaan Indonesia, walaupun gerakan radikalisme bisa dianggap sebagai gerakan pemurnian ajaran seperti yang dilakukan oleh Imam Bonjol ketika saat peristiwa perang paderi yang terjadi di tanah minangkabau. Seiring berjalannya politik pasca kemerdekaan gerakan-gerakan ini cukup massif dan banyak sekali terjadi di Indonesia, dan lambat laun perubahan konotasi radikalisme menjadi seaakan gerakan yang meneror atau yang lebih dikenal dengan gerakan terorisme. Pada saat masa orde baru terjadi gerakan teroris yang mana mengebom candi Borobudur jika diliat dari perspektif politik ada kaitannya dengan diskrimasi kelompok muslim yang dibungkam oleh pemerintahan orde baru, bernajak semakin kesini banyak sekali kejadian aksi teror yang menyerang tidak hanya masyarakat tetapi kepada aparat dan pemerintahan yang sah, oleh karena itu media serta pemberitaan yang massif mengaitkan aksi teror dengan aksi radikalisme dalam satu keterkaitan yang sama. Disisi lain radikalisme agama juga bisa terjadi adanya respon tuntutan demokratisasi yang lebih baik dan anggapan para kelompok tersebut untuk membuktikan dan menawarkan asas ideologi yang bertentangan dengan ideologi di Indonesia saat ini. Kebanyakan aksi teror tersebut juga terjadi karena adanya aliran transnasional yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok luar dari Indonesia sehingga kelompok yang di Indonesia termotivasi mengikuti gerakan radikal seperti yang ada diluar. Relasi antara radikalisme dan terorisme sebenarnya jika kita bicara konteks waktu, jika berbicara di masa sekarang dengan anggapan kebanyakan orang dan ahli membicarakan hal tersebut sangat ada kaitannnya antara radikalisme dan terorisme. Jika kita menilisik proses upaya menjadi seorang yang bisa disebut teroris biasanya didahului dengan adanya doktrin-doktrin yang berasal dari suatu kelompok yang menyasar sesorang baik secara verbal maupun non-verbal. Radikalisme bisa dikaitkan dengan upaya puritanitas ajaran yang menyebabkan pola atau cara berfikir sempit untuk meraih sesuatu dengan iming-iming janji yang diberikan oleh orang yang mendoktrin, yang mana hal tersebut dapat memberikan upaya gerakan politik maupun gerakan kelompok sosial untuk menganggu kestabilan sosial maupun dimasyarakat. Bahkan dibelahan negara  di dunia marak sekali aksi teror dan banyak sekali yang berpendapat aksi teror tersebut karena adanya pemahaman yang sempit terhadap sesuatu disaat semangat untuk melakukan perjuangan sangat kuat. Hal tersebut jelas ada kaitannya antara radikalisme dan terorisme kalau ditinjau secara afirmatif di masa sekarang. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah pergerakan. Jika diibaratkan manusia, PMII kini sedang berada di fase kematangan yang seharusnya sudah tuntas dengan urusan identitas. Namun, merayakan Harlah ke-66 dengan tema "Aksi Nyata untuk Indonesia" hari ini terasa seperti sebuah teguran halus sekaligus tantangan besar. Di tengah hiruk-pikuk perayaan, kita perlu duduk sejenak, melepas atribut kebesaran, meluruskan hati dan bertanya dengan jujur, sejauh mana akal fikiran, kaki terpijak, dan   esensi organisasi akan dibawa?. Tantangan terbesar PMII ke depan bukan lagi soal kekurangan kader secara kuantitas, melainkan ancaman apatisme yang sistemik. Kita hidup di era di mana mahasiswa lebih mudah tergerak oleh tren media sosial daripada isu kemiskinan di depan mata. Fanatisme berlebih yang menarasikan ideologisasi yang pragmatis akan melahirkan kader yang premature bagi organisasi. Apatisme ini bukan sekad...

Simbiosis Mutualisme Antara Masyarakat dan Negara Melalui "Jogo Tonggo" dan Peran Dalam Pembangunan Daerah

               Di dalam masyarakat dan negara terdapat sebauh sistem yang mana biasanya ada keterkaitan satu sama lain dan itu saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena adanya sebuah kecenderungan didalam proses bermasyarakat bernegara yaitu saling ketergantungan. Didalam ketergantungan tersebut maka akan terjadi sebuah simbiosis yang terkadang akan berbeda ketika input yang diberikan dan output yang dihasilkan. Tetapi ada kalanya didalam hubungan antara masyarakat sipil dan negara dapat memberikan simbiosis mutualisme yang baik untuk progres kedepan. Kalo kita kaitan melalui pendekatan perspektif bahwa masyarakat sipil dan negara adalah sebuah entitas yang berbeda maka kita dapat lebih mengetahui gejala yang akan ditimbulkan salah satunya yaitu dengan terbukanya ruang demokrasi yang begitu besar. Pasal 4 ayat 1 dan 2, UU No. 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota tidak lagi mempunyai hub...

Problem dan Konflik Rasisme di Indonesia (Isu Rasisme Etnis Tionghoa)

  Kerusuhan Mei 1998 merupakan masa kelam bangsa Indonesia dan dunia. Kejadian tersebut merenggut lebih dari seribu jiwa penduduk keturunan Tionghoa di Indonesia dan merusak ribuan rumah dan toko yang dimiliki keturunan Tionghoa di Indonesia, dan lebih dari seratus wanita keturunan Tionghoa diperkosa dalam beberapa hari selama tragedi itu berlangsung. Aksi tersebut tentunya menyita perhatian yang cukup besar terutama dalam kancah perpolitikan yang ada di Indonesia. Hal ini ini merpakan salah satu bentuk respon dari adanya krisis moneter dan finansial yang melanda Indonesia pada saat itu. Kejadian tersebut berubah dengan cepat secara drastis menyasar secara ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Apalagi dengan adanya isu rasisme yang dilakukan oleh pemerintah orde baru secara struktural berpengaruh terhadap pola kegiatan sosial masyarakat yang terjadi. Kerusuhan anti-Tionghoa pada Mei 1998 mengguncang Indonesia. Tragedi tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia a...