Langsung ke konten utama

Virus Itu Bernama Intoleransi


Manusia boleh dibilang makhluk yang memiliki akal budi yang secara harfiah dapat melakukan suatu kebajikan dan memanusiakan manusia.  Bahwasannya manusia merupakan makhluk sosial yang seharusnya dapat saling membantu gotong royong terutama dalam lingkungan masyarakat untuk menciptakan ketertiban dan keamanan satu sama lain. Saling memberikan kasih sayang dan rasa mengerti untuk masyarakat yang berdikari.

Namun, terkadang manusia itu egois hanya memikirkan kepentingan pribadinya tanpa memikirkan kepentingan bersama, manusia tidak sadar akan apa yang diberi bukannya untuk bersama dan dapat memberikan kemanfaatan tetapi begitu serakahnya tanpa mempedulikan orang lain. Apalagi dalam ranah politik pasti banyak sekali gejala yang akan ditimbulkan, terlebih hanya kepentingannya saja yang difikirkan. Tidak mempedulikan rasa sisi kemanusiannya sebagai manusia yang katanya mempunyai adab dan moral tetapi kelakukannya berbanding terbalik dengan yang dilakukannya. Sampai-sampai dalam tahapan pemilu yang notabene merupakan hajat seluruh warga negara yang ikut berpartisipasi sebagai pemilih terkadang akhirnya ditunggangi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan dalam prosesi pemilu yang akan dilakukan, calon yang bertarung akan habis-habisan dalam rangka memenuhi kepentingannya dalam pemilu tersebut. Bisa memberikan isu sara, agama, bahkan dapat memberikan ancaman misterius kepada calon lawan dan pendukung nya. Sehingga yang terjadi dapat memecah belah masyarakat terutama bagi yang terdampak langsung oleh seperti itu. Sehingga akan terjadi dikotomi dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam sosial-politik di dalam masyarakat.  Yang terjadi seperti ujaran kebencian, berita hoax ada dimana mana, banyak terjadi permusuhan, sampai-sampai efek yang ditimbulkan akan berubah menjadi bahaya laten yang akan merubah sendi kehidupan dalam masyarakat.

Dewasa ini kita tahu praktek intoleransi begitu menjamur didalam masyarakat. Banyak hal kaitannya intoleransi muncul karena faktor sosial-politik yang mana terjadi didalam waktu yang singkat tetapi efek yang ditimbulkan akan sangat panjang. Intoleransi akan menggrogoti akal, fikiran, dan moral manusia yang dapat merusak jalan kemanusiaan manusia sebagai makhluk yang berbudi. Karena hal tersebut merupakan sebuah penyakit masyarakat terutama dikaitkan dengan hati nurani yang seharusnya dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Di sisi lain, peran pemerintah dalam ikut campur menengahi masalah intoleransi sangatlah vital, karena merupakan aktor yang seharusnya berperan besar dalam penanggulangan intoleransi yang terkadang muncul tidak hanya dari unsur masyarakat tetapi dari elit politik yang membuat seperti itu. Ini terjadi, karena elit politik dalam perkembangannya sangat berpengaruh besar, terutama atas gejala yang terjadi didalam masyarakat. Dan terkadang kita hanya menjadi kepanjangan tangan elit politik yang seakan bermain semaunya sendiri. Maka dari itu kita harus tetap waspada dan berani mengeluarkan pendapat karena negara kita negara demokrasi. Bukankah seperti itu?.

           

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama

66 Tahun PMII: Sinyal Peringatan dan Refleksi Bersama Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah pergerakan. Jika diibaratkan manusia, PMII kini sedang berada di fase kematangan yang seharusnya sudah tuntas dengan urusan identitas. Namun, merayakan Harlah ke-66 dengan tema "Aksi Nyata untuk Indonesia" hari ini terasa seperti sebuah teguran halus sekaligus tantangan besar. Di tengah hiruk-pikuk perayaan, kita perlu duduk sejenak, melepas atribut kebesaran, meluruskan hati dan bertanya dengan jujur, sejauh mana akal fikiran, kaki terpijak, dan   esensi organisasi akan dibawa?. Tantangan terbesar PMII ke depan bukan lagi soal kekurangan kader secara kuantitas, melainkan ancaman apatisme yang sistemik. Kita hidup di era di mana mahasiswa lebih mudah tergerak oleh tren media sosial daripada isu kemiskinan di depan mata. Fanatisme berlebih yang menarasikan ideologisasi yang pragmatis akan melahirkan kader yang premature bagi organisasi. Apatisme ini bukan sekad...

Simbiosis Mutualisme Antara Masyarakat dan Negara Melalui "Jogo Tonggo" dan Peran Dalam Pembangunan Daerah

               Di dalam masyarakat dan negara terdapat sebauh sistem yang mana biasanya ada keterkaitan satu sama lain dan itu saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena adanya sebuah kecenderungan didalam proses bermasyarakat bernegara yaitu saling ketergantungan. Didalam ketergantungan tersebut maka akan terjadi sebuah simbiosis yang terkadang akan berbeda ketika input yang diberikan dan output yang dihasilkan. Tetapi ada kalanya didalam hubungan antara masyarakat sipil dan negara dapat memberikan simbiosis mutualisme yang baik untuk progres kedepan. Kalo kita kaitan melalui pendekatan perspektif bahwa masyarakat sipil dan negara adalah sebuah entitas yang berbeda maka kita dapat lebih mengetahui gejala yang akan ditimbulkan salah satunya yaitu dengan terbukanya ruang demokrasi yang begitu besar. Pasal 4 ayat 1 dan 2, UU No. 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota tidak lagi mempunyai hub...

Problem dan Konflik Rasisme di Indonesia (Isu Rasisme Etnis Tionghoa)

  Kerusuhan Mei 1998 merupakan masa kelam bangsa Indonesia dan dunia. Kejadian tersebut merenggut lebih dari seribu jiwa penduduk keturunan Tionghoa di Indonesia dan merusak ribuan rumah dan toko yang dimiliki keturunan Tionghoa di Indonesia, dan lebih dari seratus wanita keturunan Tionghoa diperkosa dalam beberapa hari selama tragedi itu berlangsung. Aksi tersebut tentunya menyita perhatian yang cukup besar terutama dalam kancah perpolitikan yang ada di Indonesia. Hal ini ini merpakan salah satu bentuk respon dari adanya krisis moneter dan finansial yang melanda Indonesia pada saat itu. Kejadian tersebut berubah dengan cepat secara drastis menyasar secara ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Apalagi dengan adanya isu rasisme yang dilakukan oleh pemerintah orde baru secara struktural berpengaruh terhadap pola kegiatan sosial masyarakat yang terjadi. Kerusuhan anti-Tionghoa pada Mei 1998 mengguncang Indonesia. Tragedi tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia a...