Sejarah pemikiran politik Indonesia tidak bisa terlepas dari berbagai macam aliran dan ideologi yang muncul diantero bangsa Indonesia. Salah satunya yang dapat kita kenali adalah pemikiran politik islam yang muncul menjadi penggerak dalam proses perjuangan pribumi pada era setelah kebangkitan para generasi terpelajar di Indonesia. Pemikiran politik islam terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan dengan banyak munculmya gerakan yang berbasis islam seperti sarekat islam, muhammadiyah, dan nahdlatul ulama. Mereka mengalami perkembangan yang sangat pesat dan mempengaruhi aspek pemikiran dan kegiatan masyarakat dengan seiring banyaknya massa yang ikut dalam kelompok tersebut. Hal ini terjadi karena kultur masyarakat indonesia yang notabene mayoritas beragama islam. Dengan dukungan yang kuat dari masyarakat akan membuat sebuah gerakan yang dapat mempengaruhi kebijakan yang akan diambil kedepannya, hal ini akan menjadi basis yang cukup kuat dalam mempersiapkan agenda politik selanjutnya.
Tidak lama lama setelah munculnya
organisasi masyarakat yang berbasis islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul
Ulama, Sarikat Islam maka munculah partai yang mempunyai basis masyarakat islam
yaitu partai majelis syuro muslimin
indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan partai masyumi. Partai ini
merupakan penggabungan dari para kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama
sebagai pengendali para umat islam pada saat itu yang belum memiliki basis
partai politik. Walaupun partai ini memliki basis yang sangat kuat dan banyak
dengan jutaan umat muslim islam yang menjadi kader penggerak, tetapi pada saat
dilaksanakannya demokrasi liberal pada era Soekarno partai ini dibubarkan
dengan dalih menjadi dalang dalam pemberontakan PRRI terhadap pemerintahan
Indonesia pada saat itu. Dengan seiring turunnya Soekarno dalam tampuk
kekuasaan presiden yang digantikan oleh Soeharto terdapat upaya dalam
pengembalian izin agar Partai Masyumi dapat dihidupkan lagi tetapi ditolak oleh
pemerintaham orde baru. Dengan begitu muncul gerakan reformis islam yang
membuat pandangan dan aliran yang berbeda seperti adanya Partai Nahdlatul Ulama,
tetapi diera soeharto terdapa perubahan dan pengelompokan kelompok-kelompok
partai menjadi hanya 3 partai yaitu Partai Golongan Karya yang diperuntukan
untuk kalangan PNS TNI/POLRI dan para pejabat, Partai Demokrasi Indonesia
merupakan partai yang mewadahi orang-orang yang berhaluan nasionalis, sedangakn
untuk para kelompok islam dijadikan menjadi satu basis yaitu dalam Partai
Persatuan Pembangunan. Pada saat itu basis PPP lumayan besar terutama dalam mewadahi
berbagai kelompok islam yang ada didalamnya, eksistensi PPP menjadi penyeimbang
dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah walaupun terdapat beberapa
gejolak yang terus terjadi didalam internal PPP. Dengan adanya kontrol
pemerintahan orde baru yang sangat kuat membuat PPP seakan harus mematuhi
peraturan yang pemerintahan buat karena terdapat beberapa perbedaan pandangan
yang pastinya membuat gejolak politik mempengaruhi keadaan partai dan
stabilitas geopolitik Indonesia.
Runtuhnya pemerintahan orde baru
menjadi titik balik dalam perkembangan partai politik yang berideologi islam.
Yang awal mulanya hanya PPP yang menjadi
wadah dalam gerakan politik islam di Indonesia, pada saat setelah reformasi
berlangsung banyak sekali partai-partai yang berideologi islam muncul seperti
Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sosial, Partai Amanat Nasional, dan
Partai Bulan Bintang. Perkembangan parati tersebut yang berideologi islam
sangatlah masif , karena terbukti dengan tekanan PPP pada saat era orde baru
terdapat gerakan islam yang berbeda seiring lahirnya berbagai macam gerakan
islam melalui simbol-simbol partai yang ada. Dengan aneka macam gerakan yang
dimiliki tentunya akan menjadi pembeda dalam mentukan arah kebijakan
pemerintahan yang sedang berkuasa.
Dalam kurun waktu 21 tahun era reformasi
partai islam hanya menjadi salah satu penyumbang suara yang relatif stagnan
dalam kontestasi pemilu. Dalam hal ini suara masyarakat islam hanya menjadi
sebatas pendukung Partai nasionalis yang memiliki suara terbanyak diparlemen.
Walaupun terdapat partai islam yang merapat menjadi koalisi pemerintahan dan
ada yang menjadi sekadar oposisi saja. Dengan perkembangan zaman yang begitu
pesat partai islam memang dituntut untuk adaktif untuk menyikapi perkmbangan
sekarang. Banyak sekali kelompok-kelompok islam reformis yang benar-benar
menentang pemerintahan yang sah. Selain itu, ada kelompok yang sangat suka
menggaungkan isu khilafah yang tentunya bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Disini peran partai islam dalam menyikapi tantangan ini. apakah partai islam
hanya sebatas mendompleng pemerintah yang sah atau ada agenda tertentu untuk
meraup keuntungan dengan ikutnya merapat
dalam deretan koalisi.
Dengan begitu melalui penegasan yang
kuat partai-partai yang berideologi islam harus menguatkan nilai-nilai dan asas
Pancasila dalam melakukan kegiatannya. Dengan harapan bahwa pancasila merupakan
hal final, dan eksistensi partai islam dalam membangun kepercayaan masyarakat
khususnya umat islam akan besar. Terlebih dengan adanya islam yang moderat
tentunya tidak akan bertentangan dengan Pancasila. Selagi menjalankan aturan
sesuai dengan kaidah dan peraturan yang tidak bertentangan dengan hukum syariat
dan Pancasila maka, eksistensi partai islam akan menjadi penyeimbang dan
pembeda dalam melakukan kebijakan politik terlebih mayoritas penduduk Indonesia
beragama islam yang tentunya tidak bisa jauh dari permasalahan umat islam yang
ada didalamnya.

Komentar
Posting Komentar